polrestuban-Kuhentikan Laju mobil patroliku, tatkala arah pandang mataku tertuju pada seseorang wanita yang terjerembab jatuh di pematang sawah sebuah desa.
Satu ikat rumput yang masih kuat digenggam dan lainnya jatuh berserakan karena tangan kanannya harus menopang badan akibat terpeleset.
Kumencoba merengkuh tangannya, dan ikatan rumput yang berserakan coba aku raih. Rumput itu adalah benalu padi yang akan digunakan sebagai pakan sapi, harta yang dia punya dirumahnya.
Wanita tua itu tersenyum saat aku papah melewati saluran irigasi, sambil berkata ” matur suwun cung! (Terima Kasih Nak) “.
Akupun balas itu dengan senyuman. Setelah duduk di pinggiran jalan, kemudian aku tawarkan air mineral dan sepotong roti, bekalku patroli. Aku pun duduk di samping ibu petani tua itu dan akhirnya kamipun ngobrol dan cerita tentang desa, tentang sawah dan tentang anak-anaknya.
Yang aku kagum dari cerita wanita tua itu adalah tentang perjuangannya dan suaminya sebagai petani selama ini, telah menghantarkan putra putrinya ke gerbang kesuksesan.
Setidaknya mereka bisa mandiri, tidak membebani orang tuanya lagi, bahkan satu diantara mereka ada yg menjadi pejabat meski hanya di tingkat desa, dari semua keberhasilan yang diperolehnya itu didapat dari perjuangannya selama ini dengan bermodalkan dari sawah yg hanya satu petak itu.
Namun bukan tentang sawah yang luasnya satu petak itu yang menjadikan aku terkesima dan terharu pada ibu tua itu. Namun yang bisa membuatku terpana adalah kata-kata dari ibu itu.
“Cung, Kabeh iku wis ono tatanane.bersyukur, ikhlas iku kuncine, lan apik marak liyan iku gawe kamulyane, (Nak, semua itu sudah ada tatanannya, bersyukur, ikhlas itu kuncinya, baik dengan sesama itu yang membuat kemuliaan”.
Pagi ini aku mendapatkan ilmu dari seorang wanita tua seorang petani desa. Dan rasa-rasanya aku menemukan sosok dan sisi dari RA. Kartini pada ibu itu…
Sosok itu adalah pejuang, Perjuangannya demi anak-anaknya sebagi generasi penerus bangsa! SELAMAT HARI KARTINI Ibu!




